Ribuan Mawar Mekar di Bagatelle (II)
BULAN-BULAN pertama kepindahanku ke Paris, aku dan Bara masih sering berhubungan. Biasanya lewat internet. Kukatakan terus-terang bahwa lelaki Prancis memang manis dan romantis, tetapi sejak awal sudah kubentengi diri tinggi-tinggi. Tak kuijinkan lelaki semenarik apa pun menaruh harapan padaku. Kujaga sikap, kujaga jarak, sambil berusaha tetap santun.
Awalnya Bara sering mengeluhkan kerinduannya, tetapi lama-lama kelihatannya ia jadi terbiasa. Belakangan, sejak ia pindah bekerja dari kantor kontraktor di Jakarta ke penambangan emas di daerah Jambi, berita darinya mulai jarang datang. Kesibukan kuliahku dan kesibukan Bara menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru kuanggap sebagai penyebab.
Kupikir tak ada yang perlu kukhawatirkan.
E-mail Bara toh masih datang setidaknya sekali sebulan.
Ternyata aku keliru.
Kota Paris bagai kehilangan musim semi ketika minggu lalu surat bersampul merah muda itu sampai di tanganku. Undangan pernikahan Bara… dengan seorang gadis yang dikenalnya di Provinsi Jambi.
Segera cuaca seolah berbalik arah, kembali ke musim dingin Desember lalu. Segalanya berubah kelabu bagi mataku. Kelabu tua. Gelap. Hampir-hampir hitam.
Aku tak bisa mengerti bagaimana Bara sanggup melukaiku seperti itu. Aku ingat, tak sampai setahun lalu ia ketakutan membayangkan aku akan mengkhianatinya. Aku ingat juga, betapa kuatnya aku berusaha mempertahankan kesetiaan.
Siapa yang tak setia pada akhirnya?
Yang paling mengerikan, Bara bahkan tak pernah merasa perlu memberiku rambu-rambu. Dikirimkannya undangan itu tanpa keterangan apa-apa… Tanpa menjelaskan sejak kapan dibiarkannya anganku mengembara dalam cinta yang sia-sia.
Teganya!
Apa yang bisa kulakukan selain terisak bagai kanak-kanak di pelukan Katya?
“MAAF, apa kamu Sabrina Atmadja?” seseorang menyapaku tiba-tiba.
Aku mengangkat muka dari Les Trois Mousquetaires, novel tua karya Alexandre Dumas yang pura-pura kubaca. Mataku menemukan John Mayer dalam versi yang dua atau tiga tahun lebih muda. Senyumnya malu-malu, seolah ia segan mengusik kediamanku. Aku membalas senyumnya, lalu mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Pierre menitipkan ini untukmu,” katanya, mengulurkan sepucuk surat.
“Di mana dia?” tanyaku keheranan, sambil mulai membuka surat yang sampulnya direkat rapat, seolah isinya adalah rahasia negara dari sesama rekan mata-mata.
“Menunggumu di tempat aku akan memainkan Chopin. Katanya kamu harus baca suratnya dulu,” sahut pemuda itu. “Boleh aku duduk di sampingmu?” lanjutnya santun.
Aku mengangguk, lalu tenggelam dalam surat Pierre.
Sabrina, pemuda muslim tampan asal Nouakchot yang membawa surat ini namanya Hafizh. Dia teman sekamarku yang baru, musisi seperti ayahmu.
Hafizh sudah memerhatikanmu sebulan terakhir ini… sejak kamu muncul di apartemenku bersama Katya untuk mengajariku membuat soto babat yang mengerikan itu. Katanya, kamu gadis Madagaskar paling manis yang pernah dilihatnya!
Kamu bukan pikun kalau merasa tak ingat pernah melihat Hafizh sebelum ini. Waktu kamu datang dulu, dia bersembunyi di kamarnya seperti siput… tapi mengaku tak bisa berhenti mengintipmu dari lubang kunci (jangan katakan aku memberitahumu, sebab dia sama pemalunya seperti Katya!).
Petang ini dia dan beberapa kawannya akan memainkan Chopin di Bagatelle.
Itu kejutan yang kujanjikan! Mungkin tak akan seindah cara ayahmu memainkannya, tapi kuharap itu cukup menyenangkanmu.
Dunia ini terlalu manis untuk berduka selamanya, Sabrina.
Bukalah mata!
Musim semi masih menebarkan wangi… dan ribuan mawar masih mekar di Bagatelle!
Aku mengangkat muka. John-Hafizh-Mayer tersipu-sipu saat tatapanku menyapu wajahnya.
Apakah ini déjà vu?
Aku merasa sedang mengalami peristiwa yang pernah terjadi padaku mungkin berabad-abad yang lalu!
Tiba-tiba kusadari aku memang seperti sedang mengulang lagi kisah pertemuan pertama Ayah dan Bunda. Bunda pernah bercerita, mereka pertama kali bertemu di taman mawar ini juga… suatu senja ketika Bunda sedang patah hati karena kekasihnya di Aljazair sana tiba-tiba mengirim undangan pernikahan. Aku merasa pasti aku tak pernah menceritakan hal itu pada Pierre atau Katya. Tuhan merencanakan segalanya sendirian!
“Bisa kita menemui Pierre dan Katya sekarang?” tanya Hafizh. “Aku ditunggu kawan-kawanku yang lain. Sebentar lagi aku harus memainkan karya-karya Chopin….”
“Tentu,” sahutku, bangkit berdiri. “Waktu aku masih kecil, ayahku menidurkanku dengan memainkan Chopin…” lanjutku sementara kami berjalan perlahan-lahan melewati rerumpunan mawar yang sedang mekar.
Hafizh kelihatan ngeri. “Berjanjilah untuk tidak tidur saat aku memainkannya untukmu nanti, Sabrina!” serunya.
Aku tertawa.
Tak kubayangkan aku bisa tertawa pada hari ketika Bara menikahi mempelainya, tapi itu terjadi juga!
“Akan kuusahakan,” sahutku. “Tapi tolong diingat, aku bukan gadis Madagaskar. Aku bosan bolak-balik disangka begitu. Aku dari Jakarta… ibukota Indonesia. Umm… cukup dekat dengan Bali, kalau kami nggak harus pergi ke sana berjalan kaki. Kamu tahu Anggun? Penyanyi itu berasal dari kota yang sama denganku.”
“Dari mana kamu tahu aku mengira kamu gadis Madagaskar?” kening Hafizh berkerut, “Pasti Pierre! Pengkhianat! Sebagai balas dendam akan kukatakan pada Katya bahwa laki-laki itu ngorok seperti lembu!” lanjutnya menggerutu.
Aku tertawa lagi. “Ibuku berasal dari Aljazair,” kataku. “Beberapa pamanku tinggal di Mauritania… di negrimu….”
Hafizh menoleh dan kulihat matanya dipenuhi cahaya. “Wah, itu kejutan yang menyenangkan! Beberapa sepupuku menetap di Aljazair sekarang!” serunya girang. “Dunia ini sempit sekali, ya? Bisa dianggap kita berasal dari tanah yang sama!”
Aku tersenyum pada Hafizh.
Cinta pada pandangan pertama adalah sesuatu yang tak terlalu kupercayai, tetapi aku mengerti kadang sejarah memang terulang lagi.
Semacam karma?
Entahlah.
Masih terlalu pagi untuk membuat kesimpulan, kan?
Sudah pasti aku butuh waktu.
Bagi kami —aku dan Hafizh— ending-nya mungkin akan berbeda dengan yang dialami kedua orangtuaku, tapi ini bukan awal yang buruk.
Setidaknya aku jadi tahu hidup tak berakhir hanya karena Bara mengkhianatiku.
Ketika akhirnya aku sudah duduk di sebelah Katya di taman terbuka yang diliputi cahaya senja —sambil mendengarkan John-Hafizh-Mayer dan kawan-kawannya memainkan Chopin— tiba-tiba aku ingin menelpon Bunda.
Aku harus meyakinkan Bunda bahwa pernikahan Bara tak membuatku ingin mati muda.
Aku harus menceritakan padanya bahwa kini pun… ribuan mawar masih tetap mekar di Bagatelle. Mungkin malah lebih indah dibanding yang dilihat Bunda, saat seseorang pertama kali memperkenalkan Ayah padanya….
Buat SS
… creo que lo entiendo.