Setelah Lewat Setahun
MALAM melarut perlahan-lahan. Jam tua di ruang keluargaku berdentang dua kali. Sudah hampir pagi, tapi aku belum juga tertidur. Rasa-rasanya aku malah ingin berjaga semalaman. Menikmati wajah lembut yang terlelap di sisiku, mengikuti tiap tarikan nafasnya yang halus dan teratur.
Pukul sembilan kemarin pagi, bel tamu berdering saat aku tengah menyelesaikan sulaman taplak meja. Kulepas kaca mata baca, lalu kuseret langkahku ke ruang tamu. Seorang gadis berdiri canggung ketika kubukakan pintu. Matanya yang coklat dengan ragu-ragu menyapu wajahku.
“Jeng, mau ketemu siapa?” sapaku setelah sia-sia menunggu mulutnya terbuka.
“Oh, maaf. Apakah Ibu Widjanarko masih tinggal di sini?” tanyanya tergagap.
“Saya sendiri. Mari, mari… silahkan masuk.”
Gadis itu menuruti langkahku dengan santun, lalu duduk di sudut sofa setelah kupersilahkan. Tantri -anak sulungku- tentu akan marah sekali kalau tahu aku membiarkan orang asing masuk begitu saja ke rumahku. “Tidak semua orang bertampang baik-baik punya niat baik!” kata Tantri dulu.
Apa pun kata Tantri, aku telah membiarkan gadis itu masuk. Sepi yang sejenak melingkupi kami diam-diam kumanfaatkan untuk menelitinya. Tiba-tiba aku ingat pernah melihatnya beberapa kali, dulu sekali, ketika mengunjungi panti asuhan Mbakyu Djati di Yogya. Mbakyu Djati adalah sepupu almarhum suamiku, wanita priyayi baik budi yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Mbakyu Djati pernah bilang, sejak masih kuliah di UGM gadis itu sudah jadi suka-relawan di panti asuhannya, membantu-bantu tanpa imbalan sepeser pun. “Hatinya tulus seputih sutra… jelita seperti wajahnya”, puji Mbakyu Djati dulu. Setelah pindah ke Jakarta dan punya pekerjaan, gadis itu masih sering datang ke panti asuhan Mbakyu Djati, mengunjungi anak-anak yang haus kasih sayang. Sumbangannya pun rutin dikirim tiap bulan. Dengan susah payah aku berusaha mengingat nama gadis itu. Aduh, siapa, ya? Menjadi tua kadang merepotkan! Di usia lewat 60 tahun, daya ingatku memang perlahan mulai menurun.
“Ada yang bisa saya bantu, Jeng?” tanyaku agak lama kemudian.
Gadis itu mengangkat wajahnya, dan kulihat sepasang matanya berkaca-kaca, “Saya sedang dinas di kota ini, Bu,” katanya, “Semua urusan saya sudah selesai dan seharusnya saya kembali ke Jakarta, tapi saya ingin menemui ibu dulu….”
Gadis itu menyeka matanya dengan kertas tisu, membuatku jantungku berdebar tak menentu. Kutunggu sampai ia cukup tenang, baru aku bertanya, “Ada apa dengan Mbakyu Djati? Kalau nggak salah, dulu Ibu pernah melihat Jeng di panti asuhan beliau. Apa Mbakyu Djati baik-baik saja?”
“Oh, maaf… saya bahkan tidak ingat kita pernah bertemu, Ibu! Bu Djati baik-baik saja… semoga Allah memberikan kesehatan dan umur panjang untuk wanita penuh kasih seperti beliau,” kata gadis itu terbata-bata. “Kedatangan saya tak ada hubungannya dengan beliau, Bu. Saya…. Nama saya Amanda… tapi Mas Adi selalu memanggil saya Mandy….”
BERTAHUN yang lalu setelah tamat kuliah, Adi memutuskan bekerja di Jakarta. Bermalam-malam aku tak bisa tidur setelah ia mengutarakan niatnya. Dadaku terasa sesak membayangkan perpisahan yang bakal terjadi antara kami.
“Tawaran kerja yang di Jakarta ini benar-benar bagus, Bu. Gajinya cukup besar untuk ukuran pegawai baru, dan fasilitas yang disediakan sangat memadai. Ada mess untuk karyawan bujangan, asuransi kesehatan, juga….”
“Gaji besar kalau biaya hidup tinggi, sama saja bohong,” potongku dulu. “Kerja di Semarang saja! Di sini, kamu tak perlu mikir makan dan cuci-setrika pakaian!”
Adi meringis. Melihatnya seperti itu selalu mengingatkanku pada almarhum bapaknya. Mas Djanar pun setampan Adi waktu muda. Bedanya, gizi yang baik membuat tubuh anakku jauh lebih tegap menjulang, dibanding bapaknya yang dibesarkan pada masa pendudukan Jepang.
“Adi ingin cari pengalaman baru, Bu. Tapi, kalau Ibu keberatan….”
“Siapa yang keberatan?” potongku.
Adi tertawa hangat dan merangkulku dengan bahunya yang kuat, “Ibu tidak berkata begitu terang-terangan, tapi bukan berarti Adi salah, kan?” Adi balik bertanya. “Tentu Ibu berat berpisah dengan anak kesayangan Ibu! Ah, itu masalah kecil! Kita bisa tetap bersama, asal Ibu bersedia pindah ke Jakarta. Pasti lebih menyenangkan bersama Ibu di sana daripada sendirian saja. Adi sudah menghitung-hitung… gaji Adi akan cukup untuk mengontrak rumah, tapi tentu tak semegah rumah kita ini!”
Kuacak rambut Adi ketika itu. Rasa lega memenuhi dadaku. Tawarannya menghapus prasangka bahwa ia ingin bekerja di lain kota demi melepaskan diri dariku, dari ibu yang tak pernah bisa berhenti menganggapnya kanak-kanak. Jadi, akhirnya kulepas Adi dengan ikhlas hati. Aku memilih tetap tinggal di Semarang. Itu akan menghemat gajinya, lagi pula kenangan akan almarhum suamiku membuatku tak ingin pergi dari rumah tua ini.
“IBU… apa kedatangan saya mengganggu?” sebuah suara mengusik lamunanku. Kecemasan mengental pada wajah Mandy. Sejenak aku kehilangan kesadaran akan waktu. Entah sudah berapa lama aku melamun.
“Tentu tidak, Nak,” sahutku segera. Kekhawatiran yang memancar dari mata Mandy membuat air mataku berjatuhan. Untuk sesaat aku tak tahu harus berkata apa. Cuma wajah kami saja yang saling bertatapan, dipersatukan oleh kenangan.
Awalnya setelah pindah ke Jakarta, dulu Adi rutin pulang ke Semarang. Setidaknya sebulan sekali. Kira-kira setahun setelah ia pindah ke Jakarta, tiba-tiba frekewensi kunjungannya makin jarang saja.
“Mungkin dia sibuk, Bu,” kata Tantri waktu dulu kebetulan mengunjungiku.
“Tapi, dulu-dulu ia nggak begini, lho! Anak itu kok seperti nggak sadar saja kalau dikangeni ibunya!” gerutuku.
Tantri tertawa, “Ibu kesepian, ya? Itulah, Tantri bilang juga, mendingan Ibu pindah ke Yogya. Mas Tok sudah berkali-kali mengusulkan itu, dan anak-anak juga pasti suka dekat dengan eyang mereka.”
“Ibu nggak mau lama-lama meninggalkan rumah ini!” sahutku keras kepala.
“Di sini sepi sekali. Cuma ada Mbok Man dan Pak Man. Kalau Ibu nggak mau pindah ke Yogya, Tantri nggak keberatan Ibu tinggal bersama Adi,” bujuk putriku.
“Nggak! Harusnya kalianlah yang sering-sering mengunjungi Ibu,” tegasku menolak saran Tantri. “Ada apa dengan Adi, ya? Jangan-jangan dia sakit….”
“Insyaallah Adi sehat, Bu. Kan belum sejam yang lalu Adi menelpon kita, mengabarkan ia baik-baik saja. Mungkin….”
“Mungkin apa?”
“Mungkin dia sudah punya pacar sekarang. Kan memang sudah waktunya!” jelas Tantri, meringis.
Pacar? Adi punya pacar? Kupandangi Tantri, tak mengerti.
“Ini baru dugaan lho! Tantri sendiri nggak tahu apa-apa. Adi belum pernah cerita tentang seorang gadis pun. Tapi, siapa tahu kan?” sambung Tantri yang rupanya risih terus kupandangi.
Dugaan Tantri ternyata tak keliru. Waktu Adi pulang kemudian dan pertanyaan itu kuajukan, Adi menyeringai, “Apa sih yang bisa Adi sembunyikan dari Ibu? Segalanya Ibu seperti selalu tahu!”
“Jadi benar, ya? Siapa gadis ini?”
Adi menyudahi makannya dan mengelap mulutnya. “Namanya Amanda, Bu. Tapi, Adi selalu memanggilnya Mandy… biar kedengaran lebih mesra!”
Kami pindah duduk ke sofa ruang keluarga. Kuminta Adi bercerita tentang gadisnya. Aku mendengarkannya, sambil diam-diam menekan rasa cemburu yang menyerbu hatiku. Apakah memang begini perasaan semua ibu?
“Hmm… jadi kalian sekantor ya? Sama-sama lulusan teknik sipil? Wah, boleh juga!” kataku mengomentari cerita bungsuku. “Dia asli Jakarta?”
“Dia asli Palembang, tapi kuliah di Yogya, di UGM. Sekarang dia tinggal dengan adik-adik lelakinya dan seorang pembantu yang dibawa dari kampung.”
“Orang tuanya bagaimana?”
“Di Palembang. Adi belum sempat berkenalan dengan mereka, tapi sudah cukup akrab dengan adik-adiknya yang seayah tapi lain ibu. Ibu Mandy wafat waktu Mandy masih bayi. Tiga tahun kemudian ayahnya menikah lagi dan dikaruniai dua putra,” jelas Adi. “Mereka inilah yang tinggal bersama Mandy sekarang. Mereka masih kuliah, pintar dan shaleh seperti mbakyunya. Kata Mandy, hubungannya dengan ibu barunya baik sekali. Mereka saling menyayangi.”
Kupandangi wajah Adi lebih tajam dari yang biasa kulakukan. Mendengar ceritanya, kelihatannya semua beres-beres saja. Jadi, kenapa kulihat kegelisahan di wajah Adi? Matanya terus menunduk menghindari tatapanku. Sesuatu yang -aku tahu pasti- hanya dilakukannya bila merasa bersalah.
“Ada lagi yang belum kamu ceritakan?” tanyaku, berusaha tidak kedengaran terlalu mendesak.
“Apa lagi, ya? Hm… Mandy baik dan lembut. Jenis gadis yang menangis waktu nonton televisi dan melihat anak-anak yang menderita akibat perang. Shalatnya rajin. Biar bisa dibilang dia wanita karir, Mandy nggak segan masuk dapur. Ibu harus mencicipi masakannya suatu hari nanti. Enak sekali!”
Oh, sudah jelas aku jadi cemburu! Sambil menekan perasaan itu, aku bertanya lagi, “Masih ada lagi, kan? Kalau kamu memang serius dengan gadis itu, Ibu kira Ibu harus tahu segalanya.”
Adi mendesah gelisah, menyandarkan punggungnya ke sofa. Tanpa menoleh ia berkata, “Ia bukan gadis, Bu. Mandy janda. Janda cerai tanpa anak. Perkawinannya yang pertama hancur setelah berumur setahun. Suaminya suka main pukul tanpa alasan…. Rupanya laki-laki itu punya kelainan jiwa yang baru diketahui Mandy setelah mereka menikah. Sadis. Perlakuannya pada Mandy sempat jadi urusan polisi. Mandy masih menyimpan foto-foto dan hasil visum dokter sehabis dianiaya mantan suaminya. Masya Allah… mengerikan!”
Itulah saat pertentangan antara kami dimulai. Adi pasti kena guna-guna janda muda! Pemuda setampan dia dengan kehidupan yang mulai mapan tentu bisa mendapatkan seorang gadis. Gadis macam apa saja! Bukannya janda!
“Mengapa itu harus jadi masalah? Bukankah sebagian besar istri Nabi juga janda? Mandy dan Adi seumur, Bu. Dia benar-benar wanita yang baik. Kalau Ibu sudah kenal dia, tentu Ibu akan paham mengapa Adi memilih dia,” Adi berargumentasi waktu di lain kesempatan ia pulang ke Semarang lagi. “Beri Mandy kesempatan, Bu. Saat ini kantor sedang menugaskan Mandy ke Kupang untuk mengevaluasi proyek di sana, tapi nanti begitu ia pulang, Adi akan membawanya ke sini agar ibu bisa menilainya sendiri.”
“Nggak, Nak. Nggak perlu. Dia janda… Bukan jenis menantu yang Ibu pikir layak bagimu. Sebaiknya kamu lupakan dia demi kebaikanmu sendiri. Wanita yang pernah bercerai punya kecenderungan untuk melakukannya sekali lagi, lalu sekali lagi, lalu se….”
“Ibu kenal Adi dengan sangat baik, kan?” potong Adi. “Ibu tentu tahu kalau Adi melakukan sesuatu, itu selalu dilandasi dengan banyak pertimbangan.”
“Lalu?”
“Lalu kalau Adi memutuskan memilih Mandy, itu berarti ia memang pantas dipilih. Lebih layak dari gadis mana saja!”
Betapa menyedihkan harus berselisih dengan pemuda kesayanganku. Betapa menyakitkan mendengarnya membela seorang wanita –janda, pula– dan mengabaikan kata-kata ibunya.
Keesokan harinya Adi kembali ke Jakarta. Sebelum naik taksi ke stasiun kereta, dipeluknya aku kuat-kuat sambil berbisik, “Ibu boleh menolak Mandy kalau ibu sudah mengenalnya dan bisa menemukan cacat-celanya. Tapi, Adi yakin itu nggak akan terjadi. Ibu akan jatuh hati sejak melihatnya pertama kali!”
Malamnya keteta yang ditumpangi Adi mengalami kecelakaan di Tegal. Duapuluh delapan penumpang tewas… dan Adi termasuk salah satu diantaranya.
KINI, akhirnya aku berhasil membujuk Mandy menginap. Siang-siang dia pulang ke hotel, lalu kembali ke rumahku dengan semua barang bawaannya. Air mataku berguguran menyadari kebenaran kata-kata Adi. Bungsuku tidak keliru. Aku telah jatuh hati pada Mandy… hampir sejak melihatnya pertama kali di panti asuhan Mbakyu Djati dulu.
“Maafkan saya, saya sudah mengusik ketenangan Ibu…” kata Mandy selesai makan malam, saat aku membawanya ke kamar Adi. Gadis itu duduk di tepi ranjang, mengedarkan pandangan menjelajahi bekas kamar kekasihnya dengan kerinduan yang gagal disembunyikan. “Seharusnya saya nggak datang begitu saja seperti ini. Saya menyesal membuat Ibu bersedih lagi….”
“Jangan bilang begitu, Nak,” sahutku, lagi-lagi sambil menyusut air mata. “Ibu hanya menyesal kenapa nggak dari dulu membiarkan Adi membawamu ke sini….”
Mandy menunduk. “Maafkan saya,” sahutnya penuh rasa bersalah. “Dulu Mas Adi sudah berulang kali minta saya ikut ke sini, tapi saya nggak juga berani. Status saya membuat saya ragu… Khawatir Ibu tak berkenan menerima saya. Kalau saja saya tahu ibu akan menerima saya sebaik ini….”
Aku terdiam. Rasa bersalah mencengkeram dadaku. Terbayang kembali perselisihanku dengan Adi dulu. Seharusnya kubiarkan Adi memperkenalkan Mandy lebih dini, agar aku bisa merasakan kelembutan dan ketulusan gadis ini. Bukannya malah menjebakkan diriku dalam prasangka buruk tanpa alasan!
“Waktu Mas Adi meninggal, saya sedang dinas di Nusa Tenggara. Saya sangat terpukul, tapi sudah terlambat untuk datang ke pemakaman,” cerita Mandy. “Begitu saya selesai bertugas, saya turun di Semarang menziarahi makam Mas Adi. Tanahnya masih merah dan beberapa karangan bunga bahkan belum layu…. Saya lalu ke sini juga, tapi kata penjaga rumah, Ibu sedang pergi mengunjungi Mbak Tantri.”
“Ibu sempat tinggal setengah tahun di Yogya sejak Adi meninggal, Nak…. Mbakyumu yang memaksa. Tantri takut, sendirian di rumah ini akan membuat Ibu makin tersiksa. Oh, kepergian Adi sungguh pukulan yang berat buat Ibu, Nak….”
“Begitu pula bagi saya, Bu… meski mungkin tak seberat yang Ibu rasakan,” gumam Mandy. “Saya belum bisa melupakan Mas Adi, Bu…. Dia sangat baik…. Kenangan tentangnya membuat saya nggak ingin menikah lagi. Pengalaman pernikahan pertama saya begitu buruk, lalu waktu saya mulai menjalin hubungan yang indah, saya kehilangan….”
“Tapi kamu masih muda, Nak! Dan pasti masih banyak lelaki yang baik di dunia ini,” kataku. “Berjanjilah kamu akan menikah lagi suatu waktu nanti!”
“Biar saja itu jadi urusan Allah, Bu,” gumam Mandy. “Ibu tahu, Mas Adi sayang sekali sama Ibu. Maukah Ibu mengijinkan saya punya perasaan yang sama? Saya bukannya ingin hanyut dalam masa lalu… tapi untuk bangkit kembali, saya mohon bantuan Ibu. Mas Adi ada di hati saya, dan berada dekat dengan Ibu membuat saya merasa dekat dengannya pula… Memberi saya kekuatan untuk bertahan….”
Tanpa bisa mengendalikan diri, kupeluk Mandy. Tubuhnya yang tergoncang-goncang oleh isak tertahan membuatku merasa seolah ia benar-benar anakku.
Malam melarut perlahan.
Di kamar Adi, kami tidur bersisian sehabis mengobrol sampai kelelahan.
Mandy terlelap seperti bayi. Wajahnya menggugah rasa keibuanku untuk melindungi. Setidaknya kami bisa bahu-membahu menghadapi masa sulit sepeninggal putraku… saling membagi rasa rindu yang selama ini sesak memenuhi benak….
Kususut air mataku tanpa suara. Kupandangi foto putraku yang tersenyum padaku di dinding kamarnya.
Oh, bagiku Adi selalu menakjubkan! Bahkan setelah lewat setahun berpulang… ia masih mampu memberiku hadiah indah: Seorang putri lagi… untuk kucintai seperti aku mencintai Adi… dan -aku yakin- yang akan mencintaiku seperti Adi mencintaiku….
…
Buat Beth
…kematian justru mengekalkan cinta?
Iya deh….
PS. Dear temans, niy ada bonus cerpen menye-menye dari saya, yang gaya bahasanya justru beda jauuuh banget dengan novel-novel saya yang asal-mangap.
Pamit dulu.
Dew said,
April 17, 2008 @ 8:03 pm
…zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…
*ngantuk*
venus said,
April 18, 2008 @ 12:23 am
terima kasih udah bikin saya nangis pagi2 gini….hiks…
v1rzh4 said,
April 18, 2008 @ 1:19 am
mbak Dew, komen dulu.. blum sempet baca.
btw, aku orang palembang lho mbak.. :p
Iko said,
April 18, 2008 @ 2:23 am
Sedih banget ceritanya….
-takbisaberkatakatalagi-
kw said,
April 18, 2008 @ 6:08 am
indah…. salut. apa judul novelnya ya?
v1rzh4 said,
April 18, 2008 @ 6:10 am
barusan selesai baca lagih :p
mbak, mo nangis aku… *lagi gampang mewek*
indri said,
April 18, 2008 @ 6:21 am
trimakasih……
seneng dapet gratisan lagi
pank said,
April 18, 2008 @ 7:15 am
wahhh… ayo dunk.. d tambahin gratisanx lg mbak DeW..
gw said,
April 18, 2008 @ 7:17 am
thx.
nyiksa orang lu.
lgi kangen sino, ya, bund?
durungadus said,
April 18, 2008 @ 7:58 am
belum pernah dalam sejarah aku ngeblog, mata kok serasa ada awannya… huuu… piye iki???
nico said,
April 18, 2008 @ 1:58 pm
iya mbak, gayanya beda. btw, tak kira mau ngangkat intrik pertentangan adi dgn ibunya gara2 status mandy. ternyata bukan toh.
mandy. bagus juga namanya
Fa said,
April 20, 2008 @ 3:30 pm
*menyeka air mata, lalu dihinggapi rasa malu karena dipandang dengan tatapan aneh oleh lelaki sekamar*
cewektulen said,
April 21, 2008 @ 4:38 am
jujur..belom baca….panjang bgt…..mata ini sudah sepet karena seharian melototin komputer……fiuhhhhh
ebeSS said,
April 21, 2008 @ 5:10 am
bagusnya langsung nonton operanya ini . . .
orchestranya tinggal milih London, Berlin ato . . . . parung . . . .
ini hari kesetaraan jender yaaa . . . . selamat, tetap kreatip n independen!
imgar said,
April 21, 2008 @ 12:11 pm
akhirnya tadi pagi baca postingan ini di kantor dengan baik dan benar..
komennya..eu..eu..eu.. ga usah komen lah. keren banget soalnya..
yayie said,
April 21, 2008 @ 1:40 pm
sedih yah… knapa harus meninggal? *protes nda jelas… :D*
pdahal smalem adi baru saja mengantarkanku pulang…. hihi…
Org Paniai said,
May 5, 2008 @ 5:47 am
Bru bs bc smpe slese. Waw. Keren. Berat di dada. Palembang nya sdh diurus, setelah itu bru NAD. Satu-satu. Sabar, ya.
tiwul said,
May 8, 2008 @ 2:39 am
Sabar teruuuuuuuuuuuuuuuus!
Bosen…
Eh baru semalam kirim sms ke orang, “aku cuma nd*b*s. sabar, ya?”
Wakakakaka…
wieda said,
June 11, 2008 @ 2:10 am
ewieeeee….emang aku kemana saja seh? koq baru baca crita dikau ini hari ini???? waaaaaaa……..mataku ke banjir an oiiiiii
Dew said,
June 12, 2008 @ 5:53 am
@ Mbak Wieda: Bukannya abis jalan2 ke US, Mbak?