Buat: AP
***
PADA siapa Juni pergi saat awan bersembunyi menyisakan langit tak tertanggung lagi? Pada Maret, lelaki senja dengan kabut membayang di matanya tapi syukurlah tidak di hatinya.
Maka datanglah Juni dengan setumpuk tanya tak tertanya, hingga yang lepas dari bibirnya justru permohonan untuk kali kesekian, “Maukah Suhu bercerita lagi tentang Gadis Bintang?”
Maret tertawa dan bahkan angin melembut mendengarnya. “Kau ini kenapa? Kecanduan duka? Apakah untuk menawar dukamu sendiri kau selalu harus mendengar mahadukaku lagi?”
Juni tersipu. “Aku hanya rindu. Sudah lama aku tak mendengar kisah sesyahdu milik Suhu….”
Maret tertawa lagi dan kali ini bunga-bunga di beranda rumahnya bergoyang mesra. “Baiklah. Duduklah di dekatku agar kau bisa menghapus tangisku, kalau-kalau mataku mengkhianatiku. Romo Mangun berkata di ‘Burung-burung Manyar’-nya bahwa lelaki tak pantas berurai airmata, tapi kurasa bukan benar-benar begitu maksudnya. Rumi menangis sesekali saat Cinta memenuhi jiwanya dengan…”
“Suhu, maafkan aku… Aku datang bukan untuk berguru tentang siapa pun selain dirimu….”
Maret tersenyum sabar… Matanya menerawang lembut saat ia memutar memorinya, mengenang istana gemilang tempat berdiam gadis secemerlang bintang yang mencuri hatinya sejak pertama beradu pandang. Suara Maret lirih menembang tentang perihnya cinta yang meronta mendamba muara, sementara samudra darah memisahkan Maret dari gadis bintangnya….
“Apakah Gadis Bintang tahu hati Suhu?” tanya Juni saat Maret terdiam sesaat.
“Kau kan sudah tahu: Aku tak berani memberitahu, dan aku tak berani mencaritahu apakah ia tahu,” gumam Maret sendu.
“Kenapa Suhu tak pernah bilang pada Gadis Bintang bahwa Suhu sayang?”
“Kau juga sudah tahu: Karena masa itu berbeda dengan kini.
Kalau kau lelaki dan darahmu tak biru, tak peduli kau kaya raya dari berdagang atau beternak, di mata keluarga istana kau tetap saja bukan siapa-siapa. Hanya salah satu pemberi upeti… itu saja. Lebih mudah menjadi pelayan perempuan yang mencintai pangeran, karena mimpi mungkin bisa jadi kenyataan. Kalau yang terjadi sebaliknya… kalau kau cuma lelaki muda anak penjaga kuda istana dan kau cukup gila hingga berani melamar putri raja… maka kematianmu kemungkinan akan jadi tontonan….”
Juni bergidik. “Maafkan aku, Suhu. Sudahi ini… Maafkan aku….”
Maret menggeleng lembut. “Aku tak akan benar-benar menangis, anakku… jangan takut. Aku sudah lama belajar bersyukur diberi kesempatan mencintai semanis itu. Gadis Bintang adalah alasanku menjadi diriku yang sekarang. Maka jangan salahkan aku bila kucintai ia untuk itu… sepanjang waktu.”
Juni menyusut tangis yang mendadak menggerimis.
“Sekarang giliranmu. Ceritakan padaku tentang lelaki pengelana hatimu…” bisik Maret dengan suara tercekat. “Jangan tunda lagi, Juni… Apa kau tega aku mati sebelum sempat mendengar kisahmu yang kurasa tak kalah syahdu?”
Juni menggeleng. “Tak akan, Suhu… maafkan aku.
Suhu sudah janji tak akan mati sebelum mendengar ceritaku tentang lelaki pengelana hatiku, jadi kuputuskan untuk tak akan pernah menceritakannya….”
Maret tertawa geli, menepuk-nepuk bahu Juni.
Di langit, seribu bintang terbit.
Berkelip-kelip.
~ dew ~
Recent Comments